Senin, 16 Februari 2015

story chapter 1-1

“Ada kabar dari Sharon kalau Rere kecelakaan mobil! Sekarang dia dibawa ke rumah sakit di Jakarta.  Kondisinya kritis, Don!”  kabar dari Rico sontak membuat jantungku berdegup kencang.  Padahal baru seminggu yang lalu kami bertemu.  Baru saja kami merencanakan kumpul bersama lusa ini.  Baru saja aku mempersiapkan diri untuk mengatakan kepadanya bahwa aku …
***

“Boleh aku duduk disini?” seorang pria tinggi mengenakan kemeja kotak-kotak hitam dan celana jeans yang sedikit sobek-sobek bertanya apakah dia boleh duduk disebelahku.  Padahal aku sengaja mengosongkan satu bangku dengan harapan akan ada pria tampan yang duduk disebelahku.  Tapi ini apa? Pria pendiam dan muram menyapaku di hari pertama masuk kuliah.  Semoga bukan pertanda buruk pada masa kuliahku.  “ngg.. silakan.  Bangku ini kebetulan tidak ada yang mengisi kok.”  Dia langsung menempati bangku itu dan meletakkan tas ke meja dengan sedikit membanting.   “bruk!” sontak itu membuatku sedikit kaget dan menoleh kearahnya. “orang aneh” celetukku.  “sorry? Tadi kamu bilang apa ya?” gawat, ternyata dia dengar apa yang aku katakan tadi.  “hah? Aku tidak bilang apa-apa kok ha ha. Oh iya namamu siapa? Aku Rere.  Kamu kenapa mengambil jurusan kimia?”  aduh kenapa aku malah mengajaknya ngobrol, apalagi itu pertanyaan yang basi banget.  “namaku Doni.  Aku mengambil jurusan ini karena aku ingin.”  Dia menjawab pertanyaanku tanpa melihatku sama sekali.  Uuuh, sungguh menyebalkan.  Tanganku langsung memegang kedua pipinya sambil berteriak, “tolong ya, hargai orang yang sedang berbicara.  Tatap matanya atau minimal tersenyum!”  sontak saja hal itu membuat semua pandangan mata di kelas tertuju padaku dan Doni. “Ciee .. ciee .. jangan pacaran dikelas kayaknya mba.”  Teman-teman dikelas langsung gaduh dan meledekkku dan Doni.    Aduh, aku malu sekali.  Aku langsung melepaskan tanganku dari pipinya dan tertunduk malu.  Doni tiba-tiba saja memegang ujung bajuku dan menariknya.  Badanku ikut tertarik dan berdiri, lalu dia memegang lenganku dan menarikku keluar kelas. “Hei, kamu mau apa sih? Lepasin gak?” teriakku.  Tapi aku tidak bisa apa-apa, kekuatannya menarikku lebih besar dibandingkan perlawananku.  Sampai akhirnya dia berhenti dan melepaskan tangannya dari tanganku.  “sorry, aku pikir kamu tidak suka diledek teman-teman dikelas makanya aku mengajakmu keluar kelas.”, kata Doni sambil menggaruk-garuk kepala.  Jadi itu alasannya sampai-sampai dia harus menggeretku keluar? Sebenarnya aku geram sekali dengan tindakannya itu.  Tapi jika itu alasannya … “heeeeempt” aku menarik nafas panjang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar