“Ada kabar dari Sharon kalau Rere
kecelakaan mobil! Sekarang dia dibawa ke rumah sakit di Jakarta. Kondisinya kritis, Don!” kabar dari Rico sontak membuat jantungku
berdegup kencang. Padahal baru seminggu
yang lalu kami bertemu. Baru saja kami
merencanakan kumpul bersama lusa ini. Baru
saja aku mempersiapkan diri untuk mengatakan kepadanya bahwa aku …
***
“Boleh aku duduk disini?” seorang
pria tinggi mengenakan kemeja kotak-kotak hitam dan celana jeans yang sedikit
sobek-sobek bertanya apakah dia boleh duduk disebelahku. Padahal aku sengaja mengosongkan satu bangku
dengan harapan akan ada pria tampan yang duduk disebelahku. Tapi ini apa? Pria pendiam dan muram menyapaku
di hari pertama masuk kuliah. Semoga bukan
pertanda buruk pada masa kuliahku. “ngg..
silakan. Bangku ini kebetulan tidak ada
yang mengisi kok.” Dia langsung
menempati bangku itu dan meletakkan tas ke meja dengan sedikit membanting. “bruk!”
sontak itu membuatku sedikit kaget dan menoleh kearahnya. “orang aneh”
celetukku. “sorry? Tadi kamu bilang apa
ya?” gawat, ternyata dia dengar apa yang aku katakan tadi. “hah? Aku tidak bilang apa-apa kok ha ha. Oh iya namamu siapa? Aku Rere. Kamu kenapa mengambil jurusan kimia?” aduh kenapa aku malah mengajaknya ngobrol,
apalagi itu pertanyaan yang basi banget.
“namaku Doni. Aku mengambil
jurusan ini karena aku ingin.” Dia menjawab
pertanyaanku tanpa melihatku sama sekali.
Uuuh, sungguh
menyebalkan. Tanganku langsung memegang
kedua pipinya sambil berteriak, “tolong ya, hargai orang yang sedang
berbicara. Tatap matanya atau minimal tersenyum!” sontak saja hal itu membuat semua pandangan
mata di kelas tertuju padaku dan Doni. “Ciee .. ciee .. jangan pacaran dikelas
kayaknya mba.” Teman-teman dikelas langsung
gaduh dan meledekkku dan Doni. Aduh, aku malu sekali. Aku langsung melepaskan tanganku dari pipinya
dan tertunduk malu. Doni tiba-tiba saja
memegang ujung bajuku dan menariknya. Badanku
ikut tertarik dan berdiri, lalu dia memegang lenganku dan menarikku keluar
kelas. “Hei, kamu mau apa sih? Lepasin gak?” teriakku. Tapi aku tidak bisa apa-apa, kekuatannya
menarikku lebih besar dibandingkan perlawananku. Sampai akhirnya dia berhenti dan melepaskan
tangannya dari tanganku. “sorry, aku pikir
kamu tidak suka diledek teman-teman dikelas makanya aku mengajakmu keluar
kelas.”, kata Doni sambil menggaruk-garuk kepala. Jadi itu alasannya sampai-sampai dia harus
menggeretku keluar? Sebenarnya aku geram sekali dengan tindakannya itu. Tapi jika itu alasannya … “heeeeempt” aku
menarik nafas panjang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar